A.
PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL (Lapisan Sosial)
Pelapisan sosial atau stratifikasi atau social
stratification berasal dari kata stratification dan sosial. Stratification
berasal dari kata stratum (jamaknya strata) yang berarti
lapisan. Mengenai stratifikasi sosial, Menurut Sorokin, inti dan dasar
stratifikasi sosial adalah tidak adanya keseimbangan dalam
pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab
nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.
Selain Pitirim A. Sorokin, banyak ahli
sosiologi yang memberikan definisi tentang stratifikasi sosial.
Pendapat mereka adalah sebagai berikut.
a. Astried S. Susanto
Astried menjelaskan bahwa stratifikasi sosial
adalah hasil kebiasaan hubungan antarmanusia secara teratur dan
tersusun sehingga setiap orang mempunyai situasi yang
menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun
mendatar dalam masyarakatnya. Contoh pelapisan sosial
berdasarkan bidang pekerjaan menurut keahlian, kecakapan, dan keterampilan,
seperti pada sebuah perusahaan terdapat golongan elite, profesional, semi
profesional, tenaga terampil, tenaga semi terampil, dan tenaga tidak
terlatih.
b. Bruce J. Cohen
Ia mengemukakan bahwa stratifikasi sosial
adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas
dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai. Contohnya
pelapisan sosial berdasarkan tingkat pendidikannya.
c. Robert M.Z. Lawang
Ia menjelaskan bahwa stratifikasi sosial
adalah penggolongan orang yang ada dalam suatu sistem ke dalam lapisan-lapisan
hirarkis menurut dimensi kekuasaan, priveless, dan prestise. Contohnya
pelapisan sosial dalam sistem kasta.
d.PitirimA.Soroki
Memberikan definisi
bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis). Dengan demikian, ada
kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah.
Menurut James M. henslin (2006:176),Stratifikasi
sosial ialah suatu sistem dimana kelompok manusia terbagi dalam lapisan-lapisan
sesuai dengan kekuasaan,kepemilikan,dan prestise relatif mereka.
B.
Proses
terjadinya stratifikasi sosial (lapisan masyarakat)
Menurut Paul. B. Horton dan Chester L. Hunt
bahwa terbentuknya stratifikasi sosial tidak hanya berkaitan
dengan uang. Stratifikasi sosial dalam masyarakat menurutnya terbentuk dibagi menjadi sebagai berikut
:
a. Stratifikasi Sosial yang Terjadi dengan
Sendirinya dalam Proses Pertumbuhan Masyarakat
Landasan terbentuknya stratifikasi yang terjadi
dengan sendirinya, antara lain:
- kepandaian
- tingkat umur (yang senior);
- sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat;
- harta dalam batas-batas tertentu.
b. Stratifikasi Sosial yang Sengaja Disusun
untuk Mengejar Suatu Tujuan Bersama
Stratifikasi sosial yang sengaja disusun untuk
mencapai tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan
pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi
formal. Misalnya, pemerintahan, badan usaha, partai politik,
dan angkatan bersenjata. Pada stratifikasi sosial jenis ini
kekuasaan dan wewenang merupakan unsur khusus dalam
stratifikasi sosial. Menurut Soerjono Soekanto, ada beberapa pokok
yang mendasari terjadinya stratifikasi sosial dalam masyarakat.
1. Sistem stratifikasi berpokok pada
sistem pertentangan dalam masyarakat.
2. Sistem stratifikasi sosial
dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut: 1) Sistem
pertanggaan yang diciptakan para warga masyarakat (prestise dan
penghargaan). 2) Distribusi hak-hak istimewa yang objektif,
seperti penghasilan, kekayaan, dan keselamatan. 3) Criteria system
pertentangan, yaitu disebabkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok
kerabat tertentu, milik, wewenang, atau kekuasaan. 4) Lambang-lambang
kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, dan
keanggotaan dalam suatu organisasi. 5) Mudah tidaknya bertukar
kedudukan. 6) Solidaritas di antara individu-individu atau
kelompok yang menduduki kedudukan sama dalam sistem sosial
masyarakat.
Robin William J.R. menyebutkan pokok
pedoman tentang proses terjadinya stratifikasi sosial pada masyarakat, yaitu
sebagai berikut.
a. Sistem stratifikasi sosial
mungkin berpokok pada sistem pertentangan yang terjadi pada masyarakat sehingga
menjadi objek penyelidikan.
b. Sistem stratifikasi sosial dapat
dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur, yaitu sebagai berikut.
1) Distribusi hak-hak istimewa yang
objektif, misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju angka
kejahatan), wewenang.
2) Sistem pertentangan yang
diciptakan masyarakat (prestise dan penghargaan).
3) Kriteria sistem pertentangan
yaitu apakah didapatkan berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok
kerabat, hak milik, wewenang, atau kekuasaan.
4) Lambang-lambang kedudukan,
misalnya tingkah laku, cara berpakaian, bentuk rumah, keanggotaan dalam suatu
organisasi formal.
5) Mudah sukarnya berubah kedudukan.
6) Solidaritas di antara individu
atau kelompok sosial yang menduduki status sosial yang sama dalam sistem
sosial, seperti:
a) pola-pola interaksi (struktur
clique dan anggota keluarga);
b) kesamaan atau perbedaan sistem
kepercayaan, sikap, dan nilai;
c) kesadaran akan status
masing-masing;
d) aktivitas dalam organisasi secara
kolektif.
C. Sifat sistem stratifikasi sosial
Sistem lapisan yang ada pada masyarakat bersifat tertutup
(closed social stratification) dan bersifat terbuka (open social
stratification). Lapisan sosial yang bersifat tertutup, membatasi kemungkinan
pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain secara vertikal (ke
atas atau ke bawah). Di dalam sistem tertutup ini, satusatunya jalan untuk
menjadi anggota yaitu melalui kelahiran atau keturunan. Masyarakat yang
menganut sistem lapisan sosial tertutup, yaitu masyarakat yang masih menganut
paham feodalisme, atau status masyarakat yang ditentukan atas dasar ukuran
perbedaan ras dan suku bangsa. Di India, lapisan sosial masyarakat tertutup
terwujud dalam kasta berdasarkan agama Hindu.
Lapisan masyarakat di India yang menganut sistem kasta, yang
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
- Keanggotaan pada kasta diperoleh karena kelahiran (anak yang lahir memperoleh kedudukan orangtuanya).
- Keanggotaan yang diwariskan berlaku seumur hidup karena seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali jika dikeluarkan dari kastanya.
- Perkawinan bersifat endogami, artinya dari orang yang sekasta.
- Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya bersifat terbatas.
- Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta tertentu, terutama nyata dari nama kasta, identifikasi anggota kastanya, dan penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta.
- Kasta diikat oleh kedudukan yang secara tradisional ditetapkan.
- Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.
Sistem kasta di India telah ada sejak berabad-abad yang
lalu, yang disebut Yati, sedangkan sistemnya disebut Varna. Kasta pada
masyarakat tersusun dari atas ke bawah, yaitu sebagai berikut.
- Brahmana, yaitu kasta para pendeta agama Hindu, yang merupakan lapisan tertinggi pada masyarakat.
- Ksatria, adalah kasta para bangsawan dan tentara.
- Waisya, adalah kasta para pedagang. Kasta ini dianggap sebagai kelompok lapisan menengah pada masyarakat.
- Sudra, adalah kasta yang dimiliki oleh orang kebanyakan atau rakyat jelata.
- Di dalam sistem kasta ini terdapat kelompok masyarakat yang tidak memiliki kasta, yaitu mereka yang termasuk para penjahat atau budak. Adapun mereka yang tidak berkasta disebut kaum Paria.
Susunan kasta tersebut kedudukannya sangat kompleks dan
sampai sekarang masih tetap dipertahankan walaupun masyarakat India sendiri
terkadang tidak mengakuinya. Sistem kasta seperti di India, terdapat pula di
belahan bumi yang lain, tetapi pemisahannya tidak berdasarkan kedudukan
seseorang pada masyarakat, tetapi berdasarkan warna kulit. Salah satu kelompok
masyarakat yang memiliki warna kulit tertentu mendapat kedudukan yang istimewa
dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang memiliki warna kulit lainnya.
Dalam sosiologi, kita mengenal pembedaan antara stratifikasi
atau pelapisan sosial tertutup dan terbuka. Keterbukaan suatu sistem stratifikasi
diukur dari mudah atau tidaknya dan sering atau tidaknya seseorang yang
memperoleh status dalam strata yang lebih tinggi.
Lapisan sosial bersifat tertutup ini lebih bersifat statis,
terutama mereka yang berada pada lapisan bawah jarang memiliki cita-cita tinggi
karena masyarakat akan melecehkannya atau terkadang keberhasilan yang ditempuh
seseorang tidak diakui. Dengan demikian, kedudukan yang dimiliki setiap
individu sebagai anggota masyarakat relatif bersifat permanen. Begitu pula
hubungan yang dilakukan dengan sesama anggota masyarakat yang berlainan lapisan
harus dibatasi sesuai dengan kedudukan sosial yang dimiliki. Sistem lapisan
sosial tertutup ini sering disebut sebagai sistem yang kaku atau ekstrim.
Akibatnya, kemampuan pribadi tidak diperhitungkan dalam menentukan tinggi
rendah kedudukan seseorang di masyarakat.
Sistem pelapisan sosial tertutup dalam masyarakat memiliki
ciri-ciri sebagai berikut.
- Kedudukan ditentukan atas dasar keturunan.
- Kedudukan yang diperoleh atas dasar keturunan tidak dapat diubah dan berlaku seumur hidup, kecuali karena suatu pelanggaran sehingga seorang pewaris kedudukan dikeluarkan dari kelompoknya.
- Hubungan antar sesama ditentukan atas dasar kesamaan kedudukan dengan mengikuti pola perilaku dan tata krama adat yang berlaku.
- Harga diri yang dimiliki individu merupakan pandangan hidupnya.
Sistem sosial lapisan tertutup ini dalam batas-batas
tertentu dijumpai pula pada masyarakat Bali, tetapi tidak ketat seperti halnya
di India. Di Bali pun masyarakat terbagi menjadi empat lapisan yang terdiri
atas brahmana, ksatria, veicya (waisya), dan sudra. Ketiga lapisan pertama
disebut Triwangsa, dan lapisan terakhir yang terdiri atas orang kebanyakan
disebut Jaba. Lapisan sosial tersebut dapat diketahui dari nama-nama depan yang
dipakai orang Bali, seperti:
- nama bagi lapisan Brahmana, yaitu Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita;
- laki-laki lapisan Ksatria memiliki nama Cokorda;
- lapisan Veicya dengan nama Gusti;
- nama depan yang dipakai oleh lapisan Sudra yaitu Putu atau Gede, Made, Nyoman, Wayan.
Kedudukan atau lapisan sosial berdasarkan kasta saat ini
sudah tidak berlaku lagi karena adanya kemajuan di bidang pendidikan. Hal
tersebut menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan status seseorang sehingga
kedudukan mereka akan tampak pada latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang
dimiliki dan lapisan sosial tidak dapat diukur dari keturunan seseorang.
Demikian juga halnya dengan perkawinan yang dilakukan, dapat terjadi antara
seseorang yang berasal dari keturunan Brahmana atau bangsawan dapat menikah
dengan orang yang berasal dari keturunan rakyat biasa.
Sebaliknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota
masyarakat memiliki kesempatan berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik ke
lapisan yang lebih atas. Namun, bagi mereka yang kurang beruntung dapat turun
ke lapisan yang lebih bawah daripada lapisan semula. Pada sistem sosial lapisan
terbuka ini, akan memberi peluang yang lebih besar kepada setiap anggota
masyarakat untuk dijadikan landasan membangun dirinya dan masyarakat ke arah
kehidupan yang lebih baik, dibandingkan dengan sistem tertutup. Pada sistem
lapisan terbuka ini kemungkinan terjadinya mobilitas sosial lebih besar.
D. Unsur-unsur stratifikasi sosial
Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang
sistem lapisan masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role).
Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan, dan
mempunyai arti penting bagi sistem sosial. Untuk mendapatkan gambaran yang
mendalam, berikut penjelasannya.
1. Kedudukan atau Status
Kadang-kadang dibedakan antara pengertian kedudukan (status)
dan kedudukan sosial (social status). Kedudukan diartikan sebagai tempat atau
posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sedangkan kedudukan sosial tempat
seseorang dalam lingkungan pergaulannya, prestisenya, serta hak-hak dan
kewajiban-kewajibannya. Kedua istilah tersebut memiliki arti yang sama dan
digambarkan dengan kedudukan (status) saja. Secara abstrak, kedudukan berarti
tempat seseorang dalam suatu tempat tertentu.
Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan,
yaitu sebagai berikut.
- Ascribed status, adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Pada umumnya ascribed-status dijumpai pada masyarakat dengan sistem lapisan tertutup, misalnya masyarakat feodal, atau masyarakat tempat sistem lapisan bergantung pada perbedaan rasial.
- Achieved status, adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Misalnya, setiap orang dapat menjadi seorang dokter asalkan memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut bergantung pada yang bersangkutan bisa atau tidak menjalaninya. Apabila yang bersangkutan tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut, ia tidak akan mendapat kedudukan yang diinginkannya.
- Assigned status, adalah kedudukan yang diberikan kepada seseorang. Kedudukan ini mempunyai hubungan yang erat dengan achieved status. Artinya, suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
E. Kelas Sosial
Menurut Paul B. Harton (1989:5) suatu strata
orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian status sosial.
1. Determinan Kelas Sosial
Ialah
faktor yang menentukan kelas sosial,diantaranya :
a) Kekayaan dan penghasilan
b) Pekerjaan
c) Pendidikan
2. Identifikasi sosial dan kesadaran
sosial
Kebanyakan
orang tidak menyadari bahwa kelas sosial itu merupakan suatu hak yang
nyata,tapi secara tidak langsung mereka memiliki perasaan dan prilaku seperti
kelas sosial yang mereka inginkan. Hal-hal yang mempengaruhi ini diantaranya
ialah pola keluarga.
3. Besar kecilnya kelas sosial
Besar
kecilnya kelas sosial di kelompokan bisa berdasarkan jumlah anggota,banyak
keluarga.
F. Kelas sosial sebagai subkultur
Setiap kelas sosial merupakan
subkultur yang mencakup system prilaku,seperangkat nilai,dan cara hidup. Subkultur
ini berperan dalam membantu dalam mempersiapkan ana-anak untuk menerima kelas
sosial orang tua mereka.
G. Tujuan kelas sosial
1. Menentukan kesempatan hidup
2. Menetukan kebahagian
3. Menanamkan etnosentrisme kelas
sosial
4. Menentukan moralitas konvensional
5. Menjelaskan banyak perbedaan kelompok lainnya
6. Membentuk sikap politik dan gaya
hidup
7. Menyiapkan anggota demi status yang
lebih baik
H. Dampak stratifikasi sosial
Dengan adanya
stratifikasi social yang membentuk lapisan-lapisan sosial, maka akan
menimbulkan dampak didalam kehidupan masyarakat. Dampak-dampak itu sendiri
dapat berakibat positif maupun negatif
♦ Dampak
positif dari stratifikasi social
Dengan adanya stratifikasi social, Pengaruh
baik yang akan dibawa adalah motivasi, yaitu adanya dorongan baik dari dalam
maupun dari luar diri seseorang untuk mengejar ketinggalan, untuk melakukan
mobilitas sosial sehingga dia bisa menduduk status sosial yang pantas.
Selain itu
pengaruh baik dari stratifikasi sosial adalah perubahan sosial menuju arah yang
lebih baik dapat berlangsung lebih cepat dikarenakan telah adanya motivasi
untuk memperbaiki hidup. dimana akan semakin tercipta sumber daya manusia yang
berkualitas
Kemudian dengan adanya strafikasi sosial maka setiap orang telah memiliki peranan sendiri sehingga sudah sadar akan hak dan kewajiban masing-masing sehingga tidak terjadi pencampuran peranan sosial dan terciptanya ketertiban sosial
Kemudian dengan adanya strafikasi sosial maka setiap orang telah memiliki peranan sendiri sehingga sudah sadar akan hak dan kewajiban masing-masing sehingga tidak terjadi pencampuran peranan sosial dan terciptanya ketertiban sosial
♦ Dampak negatif dari stratifikasi social
Pengaruh buruk dari stratifikasi sosial ini
adalah munculnya eksklusivitas
dimana eksklusivitas adalah cara pandang yang menganggap diri sendiri sebagai
sosok yang terbaik dan spesial sehingga cenderung menganggap remeh orang lain,
sikap ini dapat kita lihat dimana muculnya golongan elit
Pengaruh buruk lainnya dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya sikap etnosentrisme yang dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi social yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi social atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi social rendah.
Pengaruh buruk yang paling utama dalam stratifikasi sosial adalah :
Pengaruh buruk lainnya dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya sikap etnosentrisme yang dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi social yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi social atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi social rendah.
Pengaruh buruk yang paling utama dalam stratifikasi sosial adalah :
- Konflik antar
kelas,
Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan
sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan.
Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas-kelas sosial. Apabila terjadi
perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam
mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
- Konflik antar
kelompok social,
Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial
yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologo,
profesi, agama, suku,dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai
kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik. Contoh: tawuran
pelajar.
-Konflik antar generasi,
Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
I.
Makna
stratifikasi bagi peluang hidup dan perilaku
Kedudukan dalam suatu kelas sosial tertentu mempunyai arti penting bagi
seseorang. Kita telah melihat bahwa webber mengaitkan kedudukan dalam suatu
kelas dengan peluang untuk hidup. Kekayaan dan pemilikan yang dimiliki
seseorang dan keluarganya memang mempunyai pengaruh besar terhadap peluang
hidup, terdapat nasibnya. Seorang warga masyarakat kita yang berpenghasilan
tinggi secara finansial maupun menjalani pemeriksaan dan perawatan medis di
luar negeri, misalnya Taiwan, Tokyo, atau Singapura dan menarik manfaat dari
perkembangan terakhir di dunia medis sehingga dapat memperpanjang harapan
hidupnya, seseorang yang termasuk golongan berpenghasilan terendah banyak yang
mendadak meninggal dunia tanpa diketahui sebab sebenarnya, Karena tidak
mengenal manfaat upaya medis modern dan andai kata atau pun, tidak akan mampu
membiayai perawatan medis yang paling sederhana.
Kedudukan dalam startifikasi sosial membawa dampak pada harapan hidup. Dari
data kependudukan kota Chicago dalam periode 1920-1940 mayer dan hauser antara
lain menyimpulkan bahwa harapan hidup bayi pada waktu lahir di kalangan kelas
ekonomi teratas cenderung lebih tinggi daripada di kalangan ekonomi terbawah.
Kita dapat misalnya mengamati perbedaan dalam pola asuh keluarga lapisan
menengah dan lapisan bawah dikawasan perkotaan kita. Anak-anak dari lapisan
bawah banyak yang terpaksa putus sekolah dan kemudian bekerja karena orang tua
mereka tidak mampu lagi menyekolahkan mereka, dan sewaktu masih dapat sekolah
anak-anak tersebut banyak yang harus mencari uang untuk membantu ekonomi rumah
tangga dengan jalan menjadi pedagang asongan, tukang semir, penjual surat kabar
atau yang lain sebagainya. Anak-anak dari lapisan menegah dan atas di pihak
lain, banyak yang dapat dengan leluasa melanjutkan pendidikan sampai jenjang
tertinggi dan selama mengikuti pendidikan formal memperoleh berbagai kemudahan
dari orang tua mereka, seperti jemputan atau kendaraan pribadi dengan sopir,
atau kendaraan dengan mengemudi sendiri, atau berbagai fasilitas yang menunjang
proses belajar, seperti ruang belajar yang nyaman,buku, majalah dan berbagai
kelengkapan elektronik, rumah sewa atau rumah pribadi lengkap dengan pembantu
rumah tangga di kawasan permukiman elite, bilamana anak-anak tersebut
bersekolah atau kuliah di kota atau bahkan Negara lain.
Bagi anda yang membutuhkan penghasilan pasif..
BalasHapusSilahkan rekomodasikan pada teman-teman anda di website kami http://titipdana.com ..
Dapatkan 2% dari setiap invetasi teman anda, oppp jangan lupa daftar terlebih dahulu....
ada dafftar pustakanya nggak kak'
BalasHapus